A TEXT POST

kita harus menunggu dan menuggu lagi? sampai kapan? haruskan sampai menunggu menunggu dirinya sendiri? kamu keras kepala..

A TEXT POST

hallo harapan..

Sudahkah kamu melihat matahari di pagimu? Kuharap hari mu terang. tak lagi kau ingat gelapnya waktu semalam. Hujan yang ku undang, harum yang tercium datang.  Hirup hingga ke hulu, nafasmu kan bertemu fajar pagi itu. Ini masih berawan, sepuh saja  agar berganti. Hidup  memang tak semanis senyummu, maka tersenyumlah! seduh dengan getirmu. Larutkan keduanya pada perasaan yang akan segera kau telan. Jangan takut pada pahit, percaya lah kau akan tahu penangkalnya. Oh ya boleh kah aku meminta secangkir  tawamu? Agaknya akan baik untuk hariku. Coba kau dengar lagi! Dengarkan syair angin yang membawa gulana pada memori auralmu. Lupakan bersama mendung yang pudar. Kau yakin matahari akan datang? Jika kau yakin maka yakin akan membawanya. Tetaplah kau tegak di sampingku. Tetap hidup di tengah waktu yang dipacu Tuhan hingga kita bertemu. Lari lah kau sejauh itu, rinai hujan akan terus membawamu pada derai yang mengalun di harapku. Aku lebih suka melihat tangis mu merdeka. Untuk apa kau menyerah pada malu? Toh malu tidak pernah menuntut mu untuk malu. Ingat saja pesan ibumu! Kini halaman kita kembali sama, halaman yang sesungguhnya selalu sama. halaman dimana kau jadi bunga dan aku rumput hijau perantara. Aku ada di sekitarmu, terbaring menunggu harummu datang berhamburan. Aku akan menyapa mu pada saatnya. Aku akan hadir di hidupmu berikutnya. Semenit, dua menit tak masalah. Asalkan aku ada di sana. Terima kasih waktumu.

A TEXT POST

pulang

“aku ingin pulang, pokoknya aku tetap inging pulang?”

itu terus kata mu! bagaimana kamu bisa pulang, jika konsep pulang saja tidak kamu miliki. kamu selesaikan dulu tangismu, baru kamu teruskan lagi hiraumu. 

A TEXT POST

Pesan Dari Timur

Biarlah ku seka aspal mu yang liat ini Jakarta, aku ada tugas penting. Aku seolah dapat wahyu dari Tuhan untuk hal ini. Gerungan mesin mu menceramahi ku untuk terus melaju, ah aku suka! Terima kasih suguhan asap kelam mu. Di Radio Dalam 01, aku berhenti sejenak. Meneguk es jeruk, di pestanya matahari kemarau. Kau ibu yang sabar Jakarta, kau hebat. Kau biarkan rahimmu, diperkosa berbagai kepentingan. Untuk itu aku butuh bantuanmu. Tolong bantu aku bagaimana caranya bisa sampai disana tepat waktu. Sebelum waktu magrib tiba, dan bulan muncul. Aku tidak begitu suka bulan, dia sombong. Ah pokoknya aku tidak suka. Aku yakin kau tahu apa tujuanku. Ku bawa pesan dari timur untuknya. Aku ingin bertutur cerita di lembar hidupnya kemudian. Dia memang terlihat takut, gemetar, dan keringatnya mengucur deras dari peluh.” Tak usah lah kau takut, aku tidak sedang membicarakan Idi Amin. Kau ambil saja handukmu, kau basuh getirmu!”. Dari timur ku bawa matahari menuju tempatmu, sehingga kau bisa terus berfotosintesis dengan rencanamu, tak perlu khawatirkan aku.  Aku dengar kau berkali-kali menyebut nama Tuhan? Sebutlah sebanyak kau mampu. Lara mu akan tahu, untuk apa kau menderu. Aku rindu, aku pun merasa mesra dengan mu, dan keduanya tumbuh tanpa bapak juga ibu. Kisahku tumbuh mandiri, di antara neuron metropolitan yang mengintimidasi. Aku ingat sore itu, saat matahari berubah warna. Senyummu mengelus sore itu, memperkosanya dan aku tak berdaya. Ini toh hanya kilas angin tak mengarah. Mimpi tidak pernah butuh realistis sebagai bahan dasarnya. Untuk itu diciptakannya mimpi, ditenunnya mimpi, sampai sepenggal kisah disana ku bertemu dengan mu, biarkan terus bermimpi, biar ku tinggal didalamnya, jika memang dirimu tak mau pergi pada hidup lain di luar mimpi. Entah bagaimana caranya aku selalu yakin, Tuhan punya banyak jalan. Dan dia tidak pernah lupa membuat jalan menuju sore. Sore yang akan kuhabiskan di samping mu. Di teras rumah, sebelah pot ibumu. Duduk dengan hati tenang, lara lapang, dan hatimu yang telanjang. Aku ingin tawa mu meledak, hingga alam tak kuasa menampung dan berceceran berserakan.  Lantas lara dan getirmu menjadi mubazir. Saat itu aku sampaikan pesan yang ku bawa dari timur untuk mu, “terima kasih atas duniamu”.ku tunggu jawabanmu..

A TEXT POST

Bagai ombak kita berlari, bagai buih kita terurai mimpi

Saat itu masih gelap, namun tak lama lagi matahari datang singgahi bumi. Harusnya aku berbagi tempat dengan lelap sejak tadi. Namun sepertinya aku terlalu egois, Ini hari besar, setidaknya untuk ku. Hari pengharapan bagi orang tuaku. Aku calon sarjana. Aku akan menjadi salah satu tumpuan bangsa ini mengayuhkan masa depan ibu pertiwi. ini ujung dari salah satu hutangku pada orang tua. Hingga akhirnya aku mampu menamatkannya. Lega rasanya, meski memang tidak lah seberapa. Aku justru takut menghadapi tahap setelah ini. Saat aku dan yang lain mulai mencoba berlari. Mencari arahnya masing-masing. Menggilas jalanan, menitinya tiap inci. Matahari memanggang kita yang sedang berlari. Hanya harapan yang membuat kita berani menatap dan mencoba mendekati. Asap kota menggulung setiap bulir keringat yang terproduksi. Semua tentang kita yang sudah mulai egois dan kita yang realistis, seberapa jauh jarak kita tempuh? seberapa banyak bensin kita bakar dalam perjalanan? Semua terlebur dalam emosi kita yang jujur. Aku ingat saat kita tertawa, aku ingat saat kita terjatuh. Dan terus lah ingat itu, karena untuk itu kita saat ini berlari.  Bagai ombak kita berlari, bagai buih kita terurai mimpi. Akan kah kita merasa gerah? Aku harap tidak akan pernah.

A TEXT POST

bukan soal waktu

Kabar itu datang tadi pagi, bersamaan dengan surat kabar yang tersaji dengan kopi. Aku sudah tahu kabar ini tadi malam dari Rayan. Cerita Rayan semalam pun mengingatkan ku pada kejadian tahun lalu. Saat aku kalang kabut menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Charita. Entah apa yang membuat ku saat itu merasa sangat harus memberikan sesuatu untuknya. Aku merasa ini keharusan, karena memang Charita adalah sesuatu untuk ku dan dia pantas untuk itu. Dia wanita yang senantiasa memberikan segenap perhatiannya pada ku selagi ia mampu. Ku ajak dia pergi malam itu, tepat sehari sebelum umurnya bertambah. Disaat yang sama ku undang seluruh temannya untuk datang kerumahnya. Ketika kami pulang tepat pukul 12 malam, rumahnya sudah penuh dengan teman – temannya yang memberikan ucapan selamat. Ia pun menangis, memukul bahu ku, dan lekas memeluk ku amat erat, sambil terisak ia berkata ia benci aku sepenuh jiwanya, namun ia pun mencintaiku melebihi apa yang mampu ia miliki di dunia.  Charita adalah wanita yang merelakan setiap jam pulsa handphonenya berkurang, untuk mengingatkan ku makan ketika sedang sibuk bekerja. Aku memang memiliki masalah percernaan yang cukup kronis. Berulang kali aku harus keluar masuk rumah sakit hanya karena pola makan ku yang tidak karuan. Disaat itu pula Charita ada disampingku, merawatku, dan merelakan dirinya aku marahi berkali – kali, aku yakin dia tahu aku tak bermaksud begitu. Satu hari ia sangat bersemangat mengantarkan ku ke pusat perbelanjaan di daerah senayan. “kamu harus tampil bagus, setidaknya untuk diri kamu sendiri” kalimat itu datang darinya saat memilihkan baju untuk ku menjelang hari kemerdekaan RI, aku diundang ke istana sebagai jurnalis untuk acara yang aku lupa namanya. Profesinya sebagai wartawan mode menuntutnya harus memiliki selera yang baik dalam berpakaian, maka itu aku sangat beruntung memiliki dia terutama disaat moment seperti ini. Seletelah selesai memilih pakaian, kami memutuskan untuk mengisi perut kami yang sejak tadi sudah tidak tenang. Seolah trikora kembali bergelora di siang itu. Kami selalu punya bahan perbincangan, tidak pernah ada batasan. Semua kita sajikan nikmat dalam waktu 7 tahun belakangan. Memang bukan waktu yang singkat kita bersama, banyak cerita bergulir seirama. Tepat satu hari setelah acara undangan di istana, aku ingin sekali mengajak Charita bertemu. Aku punya sesuatu yang akan membuat dirinya tersenyum lebar, aku ingin melihat dia senang. Aku jemput dia waktu itu dikantornya. Malam sudah agak larut. Profesi kami yang sama – sama harus bekerja dibawah tekanan waktu, memaklumkan kami untuk sering bertemu ketika malam sudah jauh berlari. Sering aku merasa, aku adalah salah satu laki – laki paling beruntung di dunia karena memiliki Charita. Dia bisa membuat ku melihat diriku sendiri, dia bisa membuat ku bercermin tentang siapa aku. Dia mampu menerjemahkan istimewa dengan sederhana. Sifatku yang cuek dan pendiam, diterimanya apa adanya. Awal kami berpacaran adalah masa yang sulit untuk ku dapat akrab dengan teman – teman dan lingkuangannya. Sifat kami yang berbeda pun ternyata ikut serta mempengaruhi pola pergaulan kami. Aku sempat kikuk saat pertama kali bertemu dengan teman – temannya. Aku yang pendiam dan selalu merasa kurang nyaman ketika harus bertemu dengan orang baru, hanya bisa diam ditengah bisingnya suara tawa mereka. Terlihat Charita mencoba mengambil peranku, dia berusha bercerita banyak tentangku, dan berusaha untuk memancing teman – temannya bertanya pada ku. Saat itu pula Ia berhasil mengeluarkanku dari penjara semi tersebut. Pernah suatu sore aku duduk di halaman belakang rumah orang tua ku. Bermain dengan Roro, sin tzu kesayang ibu ku. Ibu ku datang menghampiri, sambil membawa sepiring roti goreng buatannya. Ini moment yang sangat jarang aku dapatkan belakangan, terutama sejak aku pindah ke kantor yang baru. Hal yang pertama ibu ku tanyakan adalah Charita. Aku sempat cemburu, sebagai anak harusnya aku lah yang lebih pantas mendapatkan perhatian ibuku. Namun saat itu aku ikhlaskan, karena memang hubungan mereka sangat dekat. Charita lebih sering berkomunikasi dengan ibuku. Menanyakan kabar, meminta resep masakan, hingga mengeluhkan sikap dan sifat ku. Terutama setelah malam itu, satu hari setelah acara di istana. Malam itu aku memberikan ia kalung dan sebuah vinyl artis favoritnya, Feist. Ia sangat senang, dan emosi hingga menangis. “baru kali ini aku bener – bener terkejut, Atar! kalo memang ini maksudnya kejutan” ujarnya malam itu kepada ku. Aku memang paling tidak bisa  memberikan kejutan, selalu ia sudah lebih dulu tahu dan kemudian pura – pura belum tahu. Sejak saat itu, sikapnya kepada ku dan keluarga kian hangat. Mungkin ia mulai merasa aman dengan posisinya. Hingga tadi malam, aku rasa dia benar – benar sudah merasa aman, dan mungkin juga nyaman, meski bukan dengan aku. Aku yakin Rayan bisa menjaganya, aku yakin Rayan mampu menjadikan Charita bagian dari cita – citanya. Aku yakin Rayan sudah siap dan yakin akan apa yang dihadapinya. Itu yang aku tidak bisa. Tujuh tahun memang tidak sebentar, tapi ketika aku bersanding diatas altar untuk berjanji dan meminta restu Tuhan bukan lah urusan seberapa lama aku menjalin hubungan dengan pasanganku. Bukan juga seberapa dekat aku dengan pasangan ku, dan bukan juga seberapa sempurna pasangan ku. Aku kenal Raniela 4 bulan lalu, dan 2 bulan lalu aku telah melamarnya. Dia bukan tipe wanita seperti Charita, yang dengan mudah memperlihatkan perhatiannya kepada ku dan keluarga. Dia sedikit cuek, mirip dengan ku. Tapi ia baik, dan sayang dengan orang tuaku. Dia mampu meyakinkan aku bahwa dialah tujuanku, itu yang Charita tidak mampu. Ini bukan perkara waktu, tapi bagaimana aku siap, yakin, dengan apa yang aku tuju. Aku senang Charita.

A TEXT POST

Waktu kencanku adalah waktu disaat kamu diam memandang buku.

Dan berkata buku ini bagus.

*Rendra, pegawai perpustakaan

A TEXT POST

mau ujan

A: gw balik duluan yah!!!

B: wuihh udah mau ujan gini!! ntar aja lah abis ujan!

A: ahh kelamaan..

B: bawa payung nggak lo?

A: ga perlu lah…

B: buseett keujanan lo ntar..ga ada tempat neduh kan sepanjang jalan ini..

A: kan ada Tuhan tempat untuk berteduh..

(saat itu juga perbincangan selesai, B segera menutup rumahnya rapat-rapat dan berjanji tidak akan basa-basi lagi seumur hidupnya)

A TEXT POST

bilang sayang

A: aku cuma mau bilang, kalo aku sayang sama kamu!!

B: oohhh, gw juga cuma mau bilang sayang..

A: HAH KAMU SERIUS???

B: iya serius…maksudnya, sayang yang ngomong begitu loe..coba yang lain..pasti gw terima 

A: (N Y E T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T )…hehe iya kok gw juga cuma bercanda.

B: tapi gw serius loh yah!!!

*mendingan hit apa baygon sih yg bisa bikin mati duluan???